Sepi

Sepi.
Sebuah kata sederhana yang mampu menunjukan tipe kepribadian seseorang secara
rinci. Bagaimana bisa ? Tentu melihat dari respon yang diberikannya ketika
menghadapi tajamnya belati bernama sepi tadi menghujam jiwa.  Ada orang 
yang menghadapinya dengan keceriaan berlebihan, seolah ingin menunjukan
ke dunia, bahwa dirinya tak sesepi yang terasa. Entah bermaksud membohongi
publik seperti beberapa pernyataan petinggi dan pejabat belakangan ini, atau
lebih parahnya membohongi diri sendiri.
Ada juga
yang menikmati sepi seperti menyesap secangkir jus alpukat dengan tambahan
susu. Menikmatinya perlahan dari sisi – sisi atas yang terasa lembut di ujung
lidah sambil mencoba merasakan manisnya yang kadang tertinggal di rongga mulut.
Sepi itu hanyalah sebuah kata untuk menggambarkan kondisi bukanlah kata untuk
menggambarkan rasa. Yah tetap saja orang bisa mencibir, itu hanyalah kamuflase
seperti bunglon mengubah warna hijau laksana daun ketika terancam. Mungkin
orang itu merasa terancam, hidup di dunia dengan media sosial sebagai sarapan
pagi, makan siang dan makan malam. Kau tak ingin dicap kuper kan ?
Ya,
dunia menghadirkan manusia dengan sejuta permasalahan. Mungkin membeahas sepi
hanya menghasilkan kesepian kuadrat. Setiap hari kita berjumpa beragam manusia
dengan beragam karakter, hasil didikan lingkungan dan keluarga. Kita dijejali
dengan berjuta referensi yang menyatakan bahwa manusia selalu dan akan selalu menjadi
mahluk sosial, mahluk  yang terikat
dengan manusia lain, saling membutuhkan dan memiliki ketergantungan satu sama
lain, sampai kita juga terkadang menghapus fakta bahwa manusia juga terlahir
sebagai individu, individu yang memiliki pemikiran yang khas, fakta yang
terlupa ini kadang membuat manusia memberi penilaian sendiri kepada manusia
yang individualistis.
Mungkin
tidak seekstrim itu, tapi tetap ada orang – orang yang dalam sendiri, tidaklah
sepi. Karena sepi itu sendiri bagi mereka bukanlah sebuah rasa, itu hanya bahasa
manusia untuk menggambarkan sebuah kondisi. Kondisi yang terkadang menuntut
manusia untuk merasa, tuntutan itu sendiri merupakan pilihan, sejatinya hidup
yang juga selalu merupakan pilihan. Kita tetap selalu bisa memilih dengan apa
yang kita rasa dan apa yang kita responi dengan kondisi yang memaksa kita
merasa. Tapi alangkah sayangnya,  ya jika
saya terlalu sungkan untuk mengatakan alangkah bodohnya, jika pilihan kita
harus didikte bahkan sampai soal perasaan.

Jadi,
sudahkah anda merasa sepi hari ini ?

Baca Juga...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *