Unspoken

Bunyi mesin itu meraung – raung, setiap kali kudengar rasanya semakin dekat, semakin dekat dan semakin menyakitkan. Aku melihat sekelilingku, kebanyakan dari kami hanya saling memandang, seolah tahu bahwa ajal semakin mendekat seiring dengan bunyi mesin yang ditelinga kami, seperti nyanyian malaikat kematian.

Sudah banyak cerita yang kudengar, diceritakan oleh teman-teman kami, terkadang si kumbang bercerita bagaimana beringin di seberang sungai tewas dengan menyakitkan, tubuhnya terbelah – belah, sementara lengan dan kepalanya tak berbentuk setelah bersentuhan dengan mesin pencabut nyawa itu. Ada juga cerita dari si cerewet burung jalak, dia menuturkan bagaimana pohon kenari yang sebenarnya terlindung di balik bukit tak luput dari ajalnya. Langsung dicabut dengan kaki-kakinya. “Bisakah kau bayangkan, bagaimana jerit kesakitannya saat mengalami hal itu? Dia berteriak – teriak memohon ampun sampai suaranya hilang begitu saja.” Tutur si jalak, mendengar saja seluruh bulu kudukku berdiri, yah seandainya aku memiliki bulu kuduk tentu saja.

Entahlah… semua mimpi buruk dimulai sejak beberapa bulan lalu. Disaat ada segerombolan manusia yang melintas di tempat tinggal kami, mereka membawa beberapa peralatan aneh yang tak pernah kulihat sebelumnya, mengukur dan melihat – lihat sekeliling kami. Sudah sejak dulu kami diajarkan agar ramah terhadap manusia, sejak kami hanya sebatang tunas pun orang tua sudah menyebutkan bahwa manusia adalah sahabat kami. Aku mengenal beberapa anak kecil yang suka berkunjung, bermain bersama dan membuatku merasa gembira. Aku hanya berharap semua manusia seperti itu.

Sayangnya tidak… Dan mimpi buruk itu menjadi nyata, Mereka datang, bersama mesin… Ah tidak itu monster pembunuh, membunuh kami tanpa kasihan, yang tua ataupun yang kecil dibasmi seketika, jeritan tangis dimana – mana, tubuh tak bernyawa bergelimpangan di sana – sini. Ibu kami menangis, alam yang melahirkan kami bercucuran airmata setiap hari, aku hanya berharap… Semoga saja mereka sadar, sebelum ibunda membalas kematian anak – anaknya, yang merintih sampai hilang suara.

Langkah – langkah mereka mendekat…

Ku terdiam, sepertinya saatku tiba… telingaku perih dengan bunyi setan itu, jemarinya mengiris tubuhku, perih? Tidak… ini terlalu sakit untuk sekedar perih, ku hanya berharap.. Ku tak ingat apa – apa lagi.

Baca Juga...

2 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *